Beranda | Artikel
Sepuluh Sebab Meraih Cinta Allah
10 jam lalu

Sepuluh Sebab Meraih Cinta Allah merupakan kajian Islam yang disampaikan oleh: Ustadz Dr. Muhammad Nur Ihsan, M.A. dalam pembahasan Amalan-Amalan Hati. Kajian ini disampaikan pada Jumat, 13 Rajab 1447 H / 2 Januari 2026 M.

Kajian Tentang Sepuluh Sebab Meraih Cinta Allah

  1. Membaca Al-Qur’an dengan Tadabbur. Membaca Al-Qur’an hendaknya dilakukan dengan penuh penghayatan dan pemahaman terhadap maksud yang dijelaskan oleh Allah ‘Azza wa Jalla di dalam ayat-ayat-Nya.
  2. Bersungguh-sungguh dalam Ibadah. Seorang hamba harus bersungguh-sungguh melakukan ibadah, terutama amalan wajib, kemudian menyempurnakannya dengan amalan-amalan sunnah.
  3. Memperbanyak Dzikir. Lisan senantiasa basah dengan dzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hati meyakini keagungan-Nya, sementara amalan nyata menjadi bukti kesyukuran dan bentuk dzikir yang sesungguhnya.
  4. Mengutamakan Kecintaan Allah. Seorang hamba hendaknya mengutamakan apa yang dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas keinginan hawa nafsunya. Kemampuan menguasai hawa nafsu adalah kunci kedekatan dengan-Nya.
  5. Merenungkan Asmaul Husna. Menghayati dan memahami makna yang terkandung di dalam nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya yang mulia merupakan jalan mengenal-Nya. Barang siapa mengenal Allah melalui nama dan sifat-Nya, niscaya ia akan mencintai-Nya.

Mengakui Kenikmatan dan Ketundukan Hati

Poin keenam menurut Imam Ibnu Qayyim Rahimahullah adalah memperhatikan kebaikan dan ihsan Allah. Seorang hamba harus mengakui segala nikmat dan karunia Allah ‘Azza wa Jalla yang dicurahkan kepadanya, baik nikmat lahir maupun batin. Kesadaran akan hal ini akan mendorong seorang hamba untuk mencintai Allah ‘Azza wa Jalla. Segala fasilitas, kemudahan, dan nikmat dunia serta akhirat adalah karunia dari Allah ‘Azza wa Jalla. Sebagaimana firman-Nya:

وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ…

“Dan segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah.” (QS. An-Nahl[16]: 53)

Sudah menjadi fitrah manusia untuk mencintai pihak yang berbuat baik kepadanya. Maka, Allah Rabbul ‘Alamin, yang menciptakan dan mencurahkan segala nikmat, adalah yang paling utama untuk dicintai.

Ketundukan hati sepenuhnya di hadapan Allah

Poin ketujuh adalah ketundukan hati sepenuhnya di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla. Istilah inkisarul qalbi menggambarkan kondisi hati yang luluh dan tunduk sepenuhnya di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla. Ini merupakan perkara terpenting untuk meraih cinta Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Bermunajat dalam Keheningan Malam

Sebab kedelapan adalah menyendiri bersama Allah ‘Azza wa Jalla pada waktu nuzul ilahi. Seorang hamba hendaknya memanfaatkan waktu sepertiga malam terakhir untuk bermunajat, membaca Al-Qur’an, berdzikir, dan beristighfar dalam keheningan. Dalam aqidah Ahlussunnah wal Jamaah, diyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala turun ke langit dunia pada waktu tersebut sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ وَمَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

“Rabb kita Tabaraka wa Ta’ala turun setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir, lalu berfirman: ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku beri. Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni’. (HR. Bukhari dan Muslim)

Momen menyendiri ini menjadi sarana paling kuat bagi seorang hamba untuk berkomunikasi secara personal dengan Sang Pencipta guna menumbuhkan hakikat cinta yang sejati.

Ahlussunnah wal Jamaah meyakini bahwa tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Keyakinan ini membawa konsekuensi bagi seorang mukmin untuk bersungguh-sungguh memanfaatkan waktu-waktu mulia secara maksimal, terutama pada sepertiga malam terakhir.

Seorang mukmin yang mendambakan cinta Allah Subhanahu wa Ta’ala hendaknya memanfaatkan waktu tersebut untuk bermunajat dan beristighfar. Shalat malam merupakan momen terbaik untuk membangun komunikasi dengan Zat yang dicintai saat manusia lain sedang terlelap dalam mimpi.

Bergaul dengan Orang-Orang yang Shalih

Sebab kesembilan untuk meraih cinta Allah adalah bermajelis dengan orang-orang yang jujur dalam mencintai Allah. Mencari sahabat dan teman yang baik merupakan faktor utama yang menanamkan kecintaan kepada Allah di dalam diri.

Dalam pergaulan tersebut, seorang mukmin hendaknya mengambil perkataan terbaik mereka sebagaimana seseorang memilih buah-buahan yang paling lezat dan manis. Orang-orang shalih tidak akan berbicara kecuali yakin bahwa ucapannya mengandung maslahat dan kemanfaatan bagi orang lain. Pada era dunia nyata dan dunia maya saat ini, kewaspadaan dalam memilih teman sangat diperlukan karena kepribadian seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungan pergaulannya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang itu tergantung pada agama teman dekatnya, maka hendaklah salah seorang di antara kalian memperhatikan siapa yang dia jadikan teman dekat.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)

Teman yang baik akan menularkan kebaikan, sedangkan teman yang buruk akan menyeret pada hal negatif. Oleh karena itu, pemilihan sahabat harus dilakukan dengan penuh pertimbangan.

Menjauhkan Penghalang Hati

Sebab kesepuluh adalah menjauhkan semua hal yang menghalangi hati dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Segala bentuk kemaksiatan, baik besar maupun kecil, syubhat, pemikiran yang menyimpang, akidah sesat, serta amalan yang menyelisihi syariat merupakan pembendung hati dari Allah ‘Azza wa Jalla.

Seorang hamba yang ingin membuktikan cintanya dan berharap mendapatkan balasan cinta dari Allah Subhanahu wa Ta’ala harus meninggalkan segala hal yang dibenci oleh-Nya. Menjauhi dosa dan kemaksiatan adalah cara untuk memastikan agar hati tetap terhubung dan tidak terhalang dari hidayah serta kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala.

HAKIKAT CINTA DAN PEMBUKTIANNYA KEPADA ALLAH

Sepuluh sebab yang telah diuraikan merupakan sarana untuk meraih cinta sekaligus menjadi bukti cinta seorang hamba kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di saat yang sama, amalan tersebut menjadi sebab bagi seorang hamba untuk mendapatkan cinta Allah ‘Azza wa Jalla yang jauh lebih besar, lebih utama, dan lebih mulia dari segala hal.

Imam Ibnu Qayyim Rahimahullah menjelaskan bahwa melalui sepuluh sebab tersebut, orang-orang yang mencintai akan sampai pada tingkatan-tingkatan mahabbah dan sampai kepada Sang Kekasih. Agar cinta hamba sampai kepada Allah ‘Azza wa Jalla disertai ketulusan, sepuluh perkara tersebut harus diperhatikan dengan saksama. Sepuluh hal tersebut dibangun di atas dua pondasi utama, yaitu kesiapan jiwa untuk meraih cinta dan terbukanya mata hati yang dibekali dengan ilmu.

Hubungan Timbal Balik dalam Cinta

Kecintaan secara umum terbagi menjadi dua, yakni cinta hamba kepada Allah dan cinta Allah kepada hamba. Keduanya merupakan hal yang bertalian dan tidak dapat dipisahkan. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan kedua hal tersebut di dalam Al-Qur’an melalui sebuah perintah kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk menyampaikan kepada manusia yang mengaku mencintai Allah agar mereka membuktikan cintanya. Pengakuan cinta tidak cukup hanya dengan ucapan saja. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Katakanlah (Muhammad): ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran[3]: 31)

Bagian pertama dari ayat tersebut, yaitu “Jika kamu mencintai Allah,” merujuk pada cinta hamba kepada Allah. Pembuktian dari cinta tersebut adalah dengan mengikuti (ittiba’) ajaran dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Seseorang yang mengaku mencintai Allah dan Rasul-Nya namun tidak mengikuti ajaran beliau dianggap telah berdusta dalam pengakuannya.

Cinta Allah sebagai Balasan Utama

Hasil dari mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah mendapatkan kecintaan yang kedua, yaitu “Niscaya Allah mencintaimu.” Inilah cinta Allah kepada hamba yang disertai dengan pengampunan dosa. Cinta Allah tidak akan diraih kecuali bila seorang hamba terlebih dahulu mencintai Allah melalui ketaatan.

Ayat tersebut sering disebut sebagai Ayat Al-Mihnah atau ayat ujian untuk menguji kualitas dan ketulusan cinta seseorang. Abu Sulaiman Ad-Darani menyatakan bahwa tatkala hati manusia menyatakan cinta kepada Allah, maka Allah menurunkan ujian tersebut untuk membuktikan kebenaran kecintaannya. Kesungguhan dalam menempuh jalan yang dicintai Allah ‘Azza wa Jalla menjadi penentu apakah seorang hamba layak mendapatkan kemuliaan cinta dari Sang Pencipta.

Imam Ibnu Qayyim Rahimahullah menukil hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang menjelaskan pembagian cinta, yakni cinta hamba kepada Allah dan cinta Allah kepada hamba-Nya. Pembuktian cinta hamba kepada Allah dilakukan dengan mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam agar mendapatkan balasan cinta dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Tiga Perkara untuk Merasakan Manisnya Iman

Iman memiliki rasa manis yang hanya dapat dirasakan oleh orang-orang yang memiliki cinta tulus kepada Allah ‘Azza wa Jalla di dalam hatinya. Dalam sebuah hadits dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

“Tiga perkara yang apabila ada pada diri seseorang, ia akan merasakan manisnya iman: Menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai daripada selain keduanya. Mencintai seseorang hanya karena Allah. Membenci kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya sebagaimana ia membenci dilemparkan ke dalam api neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Seseorang tidak akan merasakan lezatnya iman kecuali bila Allah dan Rasul-Nya menempati posisi tertinggi dalam hatinya. Mencintai sesama mukmin hanya karena Allah merupakan konsekuensi dari keimanan dan merupakan hakikat dari prinsip mencintai dan membenci karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Cinta Allah kepada Hambanya (Hadits Wali)

Kecintaan Allah kepada hamba-Nya dijelaskan secara mendalam dalam sebuah hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu. Hadits ini dikenal sebagai hadits tentang kekasih Allah (wali). Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda bahwa Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

 مَنْ عَادَى لِي وَلِيّاً فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالحَرْبِ. وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِيْ بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ. وَمَا يَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا. وَلَئِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيْذَنَّهُ

“Barang siapa memusuhi wali-Ku, maka Aku mengumumkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, tangannya yang ia gunakan untuk memukul, dan kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, niscaya Aku beri, dan jika ia memohon perlindungan kepada-Ku, niscaya Aku lindungi.” (HR. Bukhari)

Lihat juga: Hadits Arbain Ke 38 – Wali Allah Adalah Orang-Orang Yang Beriman dan Bertakwa

Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan perlindungan penuh kepada para kekasih-Nya. Kedekatan seorang hamba kepada Allah dimulai dengan menjalankan kewajiban, lalu disempurnakan dengan amalan sunah hingga ia meraih cinta-Nya. Ketika Allah telah mencintai hamba tersebut, maka seluruh aktivitas anggota tubuhnya akan terbimbing oleh hidayah Allah, dan setiap doanya akan dikabulkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla.

Download MP3 Kajian Hakikat Cinta


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/55978-sepuluh-sebab-meraih-cinta-allah/